Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden AS Joe Biden memperkirakan Iran akan menyerang Israel lebih cepat, seiring dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap pembalasan Iran atas serangan udara yang menewaskan para komandan tinggi awal bulan ini.

Israel memang belum mengakui telah menyerang konsulat Iran di Suriah, namun secara luas informasi diyakini Israel berada di balik penyerangan tersebut.

Para pejabat AS telah mengatakan kepada CBS News, mitra BBC di AS, bahwa serangan besar terhadap Israel dapat terjadi dalam waktu dekat. Israel mengaku siap untuk membela diri.

“Kami mengabdikan diri untuk membela Israel. Kami akan mendukung Israel. Kami akan membantu membela Israel dan Iran tidak akan berhasil,” kata Biden dikutip BBC, Sabtu (13/4/2024).

Iran mendukung Hamas, kelompok Palestina yang akan menyerang Israel di Gaza, serta berbagai kelompok proksi di seluruh wilayah, termasuk beberapa kelompok – seperti Hizbullah di Lebanon – yang sering melakukan serangan terhadap Israel.

Pada hari Jumat, Hizbullah mengatakan bahwa mereka telah meluncurkan puluhan roket dari Lebanon ke Israel.

Juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan sekitar 40 rudal dan dua pesawat tak berawak peledak telah diluncurkan. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dan tidak ada indikasi keterlibatan pihak lain.

Seorang pejabat AS mengatakan kepada CBS bahwa rentetan rudal tersebut terpisah dari serangan Iran yang diperkirakan akan dilakukan terhadap Israel.

Koresponden Keamanan BBC Frank Gardner mengatakan bahwa Iran sengaja membuat Timur Tengah dan Washington menebak-nebak.

Sejak serangan mematikan pada 1 April lalu terhadap gedung konsulat di Damaskus, di mana Israel meyakini bahwa Iran mengarahkan pasokan senjata rahasianya ke proksi Iran di Lebanon dan Suriah, pihak keamanan Iran masih memperdebatkan tanggapannya.

Seperti diketahui, ketegangan yang meningkat telah membuat negara-negara termasuk AS, Inggris, India dan Australia memperingatkan agar tidak melakukan perjalanan ke Israel. Jerman meminta warganya untuk meninggalkan Iran.

Departemen Luar Negeri AS juga melarang staf diplomatik dan keluarga mereka di Israel untuk bepergian ke luar kota Tel Aviv, Yerusalem dan Beersheba.

Sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah bertemu dengan anggota kabinet perangnya di tengah-tengah peringatan tersebut.

Beberapa warga Israel mengatakan bahwa mereka tidak khawatir dengan potensi serangan Iran.

“Kami tahu bahwa kami dikelilingi oleh musuh, di selatan, utara, timur dan barat,” kata Daniel Kosman kepada kantor berita AFP di sebuah pasar di Yerusalem. “Kami tidak takut, saya bisa jamin. Lihatlah ke sekeliling orang-orang keluar,” ungkapnya.

Pemerintah Israel belum mengeluarkan saran baru kepada warganya selain panduan yang sudah ada untuk menyimpan air, makanan untuk tiga hari dan obat-obatan penting.

Namun, radio Israel melaporkan bahwa pihak berwenang setempat telah diberitahu untuk mempersiapkan kemungkinan serangan, termasuk dengan menilai kesiapan tempat penampungan umum.

Sebagai informasi, Minggu lalu, militer Israel membatalkan cuti bagi pasukan tempur, memperkuat pertahanan udara dan memanggil pasukan cadangan. Tiga belas orang tewas dalam serangan rudal pada 1 April terhadap konsulat Iran di Damaskus.

Mereka termasuk para pemimpin senior militer Iran, di antaranya Brigjen Mohammad Reza Zahedi, seorang komandan senior Pasukan Quds Iran di Suriah dan Lebanon.

Israel belum memberikan komentar, namun secara luas dianggap sebagai pihak yang melakukan serangan tersebut.

Para pejabat di beberapa negara telah berusaha mencegah Iran untuk melancarkan serangan, karena khawatir hal itu dapat memicu perang regional yang lebih luas.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken telah berbicara dengan menteri luar negeri China, Arab Saudi dan Turki dalam upaya untuk meyakinkan mereka untuk menggunakan pengaruh mereka terhadap Iran.

Perang di Gaza dipicu ketika Hamas menyerang komunitas-komunitas Israel di dekat Jalur Gaza, menewaskan sekitar 1.200 orang, sebagian besar dari mereka adalah warga sipil, dan menyandera lebih dari 250 orang. Israel mengatakan bahwa dari 130 sandera yang masih berada di Gaza, setidaknya 34 di antaranya tewas.

Kementerian kesehatan yang dikelola Hamas menyebut lebih dari 33.600 warga Gaza, sebagian besar dari mereka adalah warga sipil, telah terbunuh selama kampanye Israel di Gaza.

Konflik ini juga membuat Israel hampir setiap hari melakukan kontak senjata dengan Hizbullah di perbatasan utara, sementara kelompok-kelompok yang didukung Iran di Irak dan Yaman telah berusaha menyerang wilayah Israel serta pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di Irak dan Suriah.

Gerakan Houthi Yaman juga telah menyerang pelayaran di Laut Merah, menenggelamkan setidaknya satu kapal dan mendorong AS dan Inggris untuk melakukan serangan udara terhadap target-target Houthi di Yaman.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Presiden AS Joe Biden Bocorkan Alasan RI Pindah IKN


(pgr/pgr)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *