Jakarta, CNBC Indonesia – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut berusaha menjebak negara-negara barat ke dalam perang total di Timur Tengah. Hal ini diprediksi akan menimbulkan konsekuensi yang tak terkira bagi kawasan dan dunia.

Peringatan ini dikemukakan diplomat Iran di Inggris, Saged Mehdi Hosseini Matin, dalam sebuah wawancara pertamanya pascaserangan rudal dan drone Teheran ke Israel.

Matin berargumentasi bahwa negara-negara Barat telah kehilangan kredibilitasnya di Timur Tengah yang pada akhirnya akan menyebabkan Amerika Serikat (AS) meninggalkan kawasan tersebut, dan perdamaian hanya bisa dicapai oleh kekuatan-kekuatan regional saja.

“Ini adalah kesempatan bagus bagi negara-negara Barat untuk menunjukkan bahwa mereka adalah aktor yang rasional, dan mereka tidak akan terjebak oleh Netanyahu dan tujuannya, yaitu untuk tetap berkuasa selama dia benar-benar bisa tetap berkuasa,” ujar Matin, seperti dikutip The Guardian, Rabu (17/4/2024).

“Iran telah mempertimbangkan tindakannya dengan sangat hati-hati, dan memahami bahwa ada sebuah jebakan, namun tidak bagi Iran, bagi negara-negara Barat dan negara-negara sekutunya dimana mereka ditarik oleh negara Zionis ke dalam perang total di Timur Tengah, dan seluruh wilayah di Timur Tengah. Dunia dalam waktu dekat mungkin tidak dapat mengendalikan konsekuensinya.”

Matin menegaskan bahwa sebelum serangan terhadap Israel, Iran telah mendesak para pejabat Barat, termasuk Menteri Luar Negeri Inggris David Cameron, untuk mendukung pernyataan dewan keamanan PBB yang mengecam Israel karena menyerang konsulat Iran di Damaskus. Mereka juga mendesak negara-negara barat untuk segera mendukung gencatan senjata di Gaza.

Ia mengatakan Cameron pekan lalu menolak permintaan Iran, meski pekan ini ia mengakui bahwa Inggris akan merespons dengan sangat keras jika kekuatan musuh menghancurkan konsulat Inggris. “Seperti yang dikatakan Cameron, setiap negara mempunyai hak untuk mempertahankan diri terhadap pelanggaran mencolok terhadap hukum diplomatik dan internasional,” katanya.

Dia juga membantah klaim Cameron bahwa mungkin ada ribuan korban sipil jika serangan massal drone dan rudal Iran berhasil menembus pertahanan Israel dan sekutunya. Dia mengatakan dia menganggap tuduhan seperti itu luar biasa datang dari pemerintah yang telah mempersenjatai rezim yang telah membunuh 34.000 warga Palestina.

Selain itu, Matin, yang menjabat diplomat senior Iran di Inggris sejak Februari 2022 ketika duta besarnya dipanggil kembali, membantah bahwa Iran telah melakukan kesalahan strategis dengan menyerang pangkalan militer Israel, sehingga mengalihkan perhatian dari Gaza ke konflik regional yang lebih luas yang menjadi konflik jangka panjang.

Matin juga memperingatkan bahwa jika Israel melakukan “kesalahan lain” dengan melancarkan serangan terhadap Iran. Ia menyebut akan ada respons dari Iran yang lebih kuat, lebih parah, dan dilakukan tanpa peringatan seperti serangan akhir pekan lalu.

“Respons terhadap kesalahan Zionis berikutnya tidak akan memakan waktu 12 hari. Hal ini akan diputuskan segera setelah kita melihat apa yang telah dilakukan oleh rezim musuh. Ini akan terjadi segera, dan tanpa peringatan. Ini akan menjadi lebih kuat dan lebih parah,” katanya.

Iran melakukan serangan sebagai balasan dengan meluncurkan lebih dari 300 drone dan rudal ke Israel. Ini terjadi setelah kiriman rudal Israel diluncurkan ke konsulat Iran di Damaskus Suriah dan menewaskan tujuh orang, termasuk tiga jenderal pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) pada 1 April lalu.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Video: Iran Eksekusi Intel Mossad, Ini Informasi Rahasianya!


(luc/luc)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *