Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar mobil nasional tahun 2024 terpantau masih lesu jika dibandingkan tahun 2023 lalu. Kondisi ini mengonfirmasi, penjualan mobil di Indonesia masih dalam tahap menuju pemulihan.

Hal itu terlihat dari data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Penjualan mobil nasional secara wholesales (dari pabrikan ke diler) memang meningkat secara bulanan sejak awal tahun 2024. 

Gaikindo mencatat, penjualan mobil nasional bulan Maret 2024 masih anjlok 26,21% atau 26.548 unit secara tahunan. Pada Maret 2023, penjualan tercatat mencapai 101.272 unit.

Namun, jika dibandingkan secara bulanan sejak awal tahun 2024, penjualan mulan Maret tercatat naik 5,69% atau 4.026 unit dibandingkan bulan Februari yang tercatat 70.698 unit. Pertumbuhan ini naik dibandingkan kenaikan penjualan bulan Februari yang hanya naik 1,50% atau 1.051 unit dibandingkan Januari.

Bila diakumulasikan sepanjang tiga bulan pertama tahun 2024, penjualan secara wholesales telah menyentuh 215.069 unit. Dibandingkan periode yang sama tahun 2023, total penjualan mobil di kuartal pertama 2024 turun 23,77%. Penjualan mobil pada kuartal pertama tahun lalu mencapai 282.125 unit.

Tren penjualan mobil di Indonesia yang masih lesu sebenarnya sudah berlanjut sejak periode akhir tahun 2023 lalu. Produsen di dalam negeri menyebut, pengetatan kredit dalam proses leasing atau perusahaan pembiayaan menjadi penyebab sulitnya penjualan mobil melonjak. 

Tak hanya itu, penyelenggaraan Pemilu 2024 juga dituding berkontribusi terhadap penurunan penjualan. Ditambah, kendala cuaca dan lonjakan harga bahan pangan. 

“Harga komoditi sebenarnya masih tinggi tetapi tidak naik, itu pengaruh juga. Jadi yang lebih banyak terpengaruh pulau Jawa sebenarnya, kenapa karena curah hujan tinggi jadi panen tertunda. Kemudian beberapa daerah ada yang terdampak bencana alam, ternyata itu berpengaruh buat kami,” Octavianus Dwi Putro, Marketing Director PT Astra Honda Motor (AHM), beberapa waktu lalu.

Penyebab Penjualan Mobil Lesu

Pengamat Otomotif Yannes Martinus Pasaribu mengatakan, masih lesunya penjualan mobil di dalam negeri dipicu oleh beberapa faktor. 

Pelemahan nilai tukar rupiah dan stagnasi pertumbuhan ekonomi. Kedua hal itu menjadi faktor utama lesunya daya beli masyarakat, sehingga menunda pembelian mobil.

“Kebijakan pengetatan kredit kendaraan oleh lembaga pembiayaan turut menghambat pembelian mobil,” katanya kepada CNBC Indonesia, dikutip Kamis (18/4/2024).

“Kenaikan harga komponen mobil yang impor juga berkontribusi pada kenaikan harga jual,” tambahnya. 

Secara keseluruhan, jelasnya, pasar mobil saat ini masih dalam tahap pemulihan.

“Namun, harapan untuk pemulihan lebih lanjut memerlukan stabilisasi nilai tukar rupiah dan terobosan dalam pertumbuhan ekonomi yang signifikan,” imbuh dia.

Yannes mengatakan, pelemahan rupiah terhadap dolar AS dan sanksi terhadap logam Rusia akibat perang Ukraina dapat memberikan dampak negatif bagi pasar mobil RI.

Kondisi ini, ujarnya, dapat semakin buruk jika kemudian Iran-Israel meluas menjadi sebuah malapetaka baru.

“Harga minyak dunia bakal naik lagi, pasokan bahan baku mobil naik, biaya transportasi berpotensi naik lagi. Sementara, perekonomian Barat sedang meluncur terus ke tingkat inflasi yang semakin kurang baik,” sebutnya. 

Yannes memprediksi, pasar mobil di dalam negeri akan mengalami pemulihan bertahap di tahun 2024-2025. 

“Diharapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan membaik di tahun 2024-2025. Yang akan dapat menaikkan daya beli masyarakat,” pungkasnya. 

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Mobil Murah Laku Keras Saat Penjualan Mobil RI Anjlok 4%


(dce/dce)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *