Jakarta, CNBC Indonesia – Melemahnya kurs rupiah terhadap dolar AS berpotensi membuat harga barang-barang terancam naik, terutama barang impor atau barang produksi lokal dengan bahan baku impor.

Kondisi ini bukan tak mungkin akan berdampak pada harga mobil di Indonesia. Sebab, pabrik-pabrik mobil di dalam negeri juga masih harus mengandalkan impor komponen tertentu. Juga, Indonesia masih mengimpor mobil, baik dalam bentuk CBU (terangkai penuh) maupun CKD (terurai). 

Menanggapi hal itu, pabrikan mobil di dalam negeri pun buka suara saat dihubungi CNBC Indonesia secara terpisah, Jumat (19/4/2024).

“Kita masih monitor soal kurs dolar,” Marketing Director Toyota Astra Motor (TAM) Anton Jimmi Suwandy.

Toyota sendiri sudah memiliki banyak line up yang dirakit di Indonesia, sebut saja mobil sejuta umat Avanza, Fortuner hingga mobil hybrid seperti Innova Zenix dan Yaris Cross.

Tidak ketinggalan, Suzuki juga tengah memantau perkembangan kurs dolar. Namun 4W Marketing Director PT Suzuki Indomobil Sales Harold Donnel menegaskan, naiknya kurs  dolar AS belum tentu serta merta bakal menaikkan harga mobil. Pabrikan bakal memantau berbagai aspek lain sebelum menentukan kenaikan harga mobil.

“Untuk strategi dasar nya itu salah satu dapur kami. Jadi tidak bisa di sampaikan secara vulgar namun secara garis besar bisa dijelaskan seperti ini, yakni di Suzuki, kami memiliki teknik perhitungan COGS yang bisa “tidak terlalu dinamis” terhadap nilai tukar rupiah. Jadi harga Suzuki yang di pasarkan di Indonesia tidak secepat itu “bereaksi” atas dinamisme perubahan nilai tukar rupiah,” kata Harold.

Selain Toyota, Suzuki juga memiliki beberapa line up kendaraan hybrid. Bahkan bisa dibilang pabrikan ini menjadi salah satu pelopor kendaraan hybrid di Indonesia ketika meluncurkan Ertiga Hybrid untuk pertama pada pertengahan 2022 silam. Karenanya kenaikan kurs dolar bisa berpengaruh terhadap produksi.

Sementara itu Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) Jongkie Sugiarto menilai kenaikan harga menjadi kewenangan agen pemegang merek. Pasalnya, kandungan lokal setiap kendaraan berbeda-beda.

“Porsi impor masing-masing kendaraan berbeda, ada yang belum tinggi, ada juga yang pemakaian komponen dalam negerinya sudah tinggi,” kata Jongkie.

Sebagai informasi, tim riset CNBC Indonesia mencatat, rupiah terpuruk terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di saat ketegangan Timur Tengah antara Iran dan Israel kembali mencuat ke publik dan bank sentral AS (The Fed) yang bersikap hawkish.

Melansir Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,49% di angka Rp16.250/US$ pada hari ini (19/4/2024). Secara mingguan rupiah juga terpantau ambles 2,59%. Sementara DXY pada pukul 14:51 WIB turun ke angka 106,08 atau melemah 0,06%. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan kemarin (18/4/2024) yang berada di angka 106,15.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Siap-Siap Rogoh Kocek! Pekan Depan Deretan Mobil Baru Ini Rilis di RI


(dce)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *