Jakarta, CNBC Indonesia – Kerusakan pada pertanian, infrastruktur, produktivitas, dan kesehatan akibat perubahan iklim diperkirakan akan menyebabkan kerugian sebesar US$38 triliun atau setara Rp616.293.500.000.000.000 (kurs Rp16.218) per tahun pada tahun 2050. Proyeksi ini berdasarkan temuan penelitian yang didukung pemerintah Jerman, yakni Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK).

Angka yang hampir pasti akan meningkat seiring dengan meningkatnya aktivitas manusia yang mengeluarkan lebih banyak emisi. gas-gas rumah kaca. Memang dampak perubahan iklim terhadap perekonomian belum sepenuhnya dipahami, dan para ekonom sering kali tidak sepakat mengenai dampaknya.

Laporan tersebut memperkirakan bahwa perubahan iklim akan mengurangi 17% PDB perekonomian global pada pertengahan abad ini.

“Populasi dunia kini menjadi lebih miskin dibandingkan tanpa perubahan iklim,” kata peneliti data iklim Potsdam, Leonie Wenz, yang ikut menulis studi tersebut, dikutip dari Reuters, Sabtu (20/4/2024).

“Lebih sedikit biaya yang harus kita keluarkan untuk melindungi iklim dibandingkan tidak melakukan hal tersebut.”

Biaya yang diperlukan untuk menekan pemanasan global hingga 2 derajat Celsius (3,6F) dibandingkan suhu pra-industri pada tahun 2050, diperkirakan sebesar US$6 triliun. Jumlah itu akan kurang dari seperenam perkiraan kerugian yang diakibatkan oleh membiarkan pemanasan yang melebihi level itu.

Meskipun penelitian-penelitian sebelumnya menyimpulkan, perubahan iklim dapat memberikan manfaat bagi perekonomian beberapa negara. Namun penelitian PIK menemukan, hampir semua negara akan terkena dampaknya. Selain itu, negara-negara miskin dan berkembang adalah kelompok yang paling terkena dampaknya.

Perkiraan kerusakannya didasarkan pada proyeksi tren suhu dan curah hujan, namun tidak memperhitungkan cuaca ekstrem atau bencana terkait iklim lainnya seperti kebakaran hutan atau kenaikan permukaan laut. Hal ini juga hanya didasarkan pada emisi yang sudah dikeluarkan, meskipun emisi global terus meningkat pada tingkat rekor.

Selain mengeluarkan dana yang terlalu sedikit untuk mengekang emisi pemanasan iklim, para pemerintah di dunia juga mengeluarkan dana yang terlalu sedikit untuk melakukan upaya adaptasi terhadap dampak perubahan iklim.

Untuk penelitian ini, para peneliti mengamati data suhu dan curah hujan di lebih dari 1.600 wilayah selama 40 tahun terakhir, dan mempertimbangkan peristiwa mana yang menimbulkan kerugian. Mereka kemudian menggunakan penilaian kerusakan tersebut, bersama dengan proyeksi model iklim, untuk memperkirakan kerusakan di masa depan.

Temuan penelitian menyatakan jika emisi terus berlanjut seperti saat ini dan suhu rata-rata global meningkat melebihi 4 derajat Celcius, dampak ekonomi yang diperkirakan setelah tahun 2050 adalah hilangnya pendapatan sebesar 60% pada tahun 2100. Membatasi kenaikan suhu hingga 2 derajat Celcius akan mengurangi kerugian rata-rata sebesar 20%.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Bos PLN Beberkan Pentingnya Dunia Atasi Perubahan Iklim


(dce)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *