Jakarta, CNBC Indonesia – Tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) rupanya tak selalu merugikan. Bahkan, kondisi ini membuat sebagian perusahaan di Indonesia diuntungkan. Terutama, perusahaan yang memperoleh pendapatan dalam mata uang dolar dari hasil ekspor.

Pada perdagangan Senin (22/04/2024) pukul 13.20 WIB, nilai tukar rupiah berada pada posisi Rp 16.220 per US$.

Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi menilai, menguatnya dolar AS terhadap rupiah membuat beberapa perusahaan di sektor pertambangan “happy” karena diuntungkan dari kegiatan hasil ekspor, baik perusahaan yang bergerak di pertambangan batu bara, timah, hingga nikel.

“Menguatnya US$ di Rp 16.200 menguntungkan ekspor komoditi ekstraktif seperti batu bara, timah, nikel dan produk turunannya,” kata Fahmy kepada CNBC Indonesia, Senin (22/4/2024).

Sebagaimana diketahui, komoditas andalan Indonesia dari hasil pertambangan selama ini didominasi oleh batu bara, produk turunan nikel dan lainnya. Oleh sebab itu, menguatnya dolar dan naiknya harga komoditas tentunya akan turut mengerek pendapatan perusahaan yang bergerak di komoditas tersebut.

Misalnya saja sektor batu bara. Pada Jumat (19/4/2024), harga batu bara di pasar ICE Newcastle berada di level US$ 141,75 per ton.

Dari sisi produksi, batu bara RI pada 2023 mencapai 775 juta ton, naik 13% dibandingkan realisasi produksi pada 2022 yang mencapai 687 juta ton. Hal ini juga sekaligus menandakan produksi batu bara tertinggi sepanjang masa.

Dari realisasi produksi batu bara sebesar 775 juta ton, pemanfaatan untuk domestik tercatat mencapai 213 juta ton dan ekspor 518 juta ton. Pada tahun 2024 ini, target produksi batu bara dipatok sebesar 710 juta ton, dengan kebutuhan batu bara untuk domestik “hanya” sebesar 181,28 juta ton. Artinya, selebihnya diekspor.

Kemudian untuk nikel, harga komoditas nikel juga tengah mencapai level tertinggi dalam tujuh bulan pada perdagangan Jumat (19/4/2024). Hal ini didorong oleh pembicaraan pasar mengenai rencana China yang membeli logam tersebut untuk persediaan negara dan kekhawatiran tentang berkurangnya pasokan dari eksportir utama Indonesia.

Pada perdagangan Jumat (19/4/2024), harga nikel ditutup di level US$ 19.326 per metrik ton atau sekitar Rp 314,05 juta (US$1= Rp 16.250). Logam tersebut, yang digunakan dalam baja tahan karat dan baterai kendaraan listrik, sebelumnya mencapai US$19.440 (Rp 315,9 juta), tertinggi sejak September 2023.

Harga nikel terdorong oleh pembicaraan pasar bahwa penimbun China, Badan Pangan dan Cadangan Strategis Nasional, berencana membeli Nickel Pig Iron (NPI), bahan baku utama untuk baja tahan karat, menurut sumber industri.

Indonesia sendiri selama ini merupakan produsen nikel terbesar di dunia dan pemasok utama ke China. Sepanjang tahun lalu contohnya, realisasi produksi bijih nikel RI hampir mencapai 200 juta ton, persisnya sebesar 193,5 juta ton.

Adapun tingginya produksi bijih nikel dalam negeri seiring dengan peningkatan kapasitas smelter atau fasilitas pemurnian dan pemrosesan nikel untuk menggenjot program hilirisasi. Seperti diketahui, ekspor bijih nikel telah dilarang sejak 2020 lalu.

Selain di sektor pertambangan, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, terdapat beberapa sektor usaha yang cukup diuntungkan dengan menguatnya dolar AS terhadap rupiah. Beberapa di antaranya seperti Crude Palm Oil (CPO) atau minyak kelapa sawit dan karet.

“Sektor usaha yang diuntungkan adalah komoditas berbasis CPO dan karet karena kedua komoditas itu harga nya sedang naik di pasar internasional,” ujar Bhima.

Bhima menjelaskan, harga CPO naik lantaran permintaan biodiesel sebagai substitusi minyak ikut terdorong naiknya harga minyak mentah pasca serangan Iran ke Israel. Sementara, harga karet alam rebound 17,8% year on year (yoy) terdorong permintaan otomotif yang masih bisa diandalkan.

“Selain itu, ada kopi yang harga nya melonjak 22,8% yoy didorong berkurangnya pasokan dari Afrika dan Brazil akibat gangguan cuaca ekstrem,” tambahnya.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Sri Mulyani Ungkap Masalah Besar, Banyak yang Gak Sadar!


(wia)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *