Jakarta, CNBC Indonesia – Dalam beberapa waktu terakhir, Amerika Serikat (AS) memiliki perubahan besar dalam sikap diplomatiknya terhadap Israel. Terbaru, Washington akan menjatuhkan sanksi terhadap batalion Netzah Yehuda Israel.

Menurut AS, sanksi akan diberikan atas perlakuan pasukan Zionis terhadap warga Palestina di Tepi Barat.

Berikut ini penjelasan tentang batalion Netzah Yehuda Israel dan tuduhan dari AS terhadap tentara tersebut, seperti dilaporkan Reuters pada Senin (22/4/2024):

Mengenal Batalion Netzah Yehuda Israel

Batalion Netzah Yehuda dibentuk pada tahun 1999 untuk mengakomodasi keyakinan agama Yahudi ultra-Ortodoks dan anggota militer nasionalis agama lainnya.

Pemerintah membentuk batalion tersebut sebagai jalur bagi kelompok-kelompok ini untuk berdinas di militer dengan mengizinkan mereka tetap menjalankan praktik keagamaan, seperti memberi mereka waktu untuk beribadah dan belajar, serta membatasi interaksi mereka dengan tentara perempuan.

Tuduhan Terhadap Netzah Yehuda Israel

AS menyerukan penyelidikan kriminal setelah tentara Netzah Yehuda dituduh terlibat dalam kematian seorang warga Palestina-Amerika berusia 78 tahun, Omar Assad.

Assad dilaporkan meninggal karena serangan jantung pada tahun 2022 setelah dia ditahan dan kemudian ditemukan ditinggalkan di lokasi bangunan.

Otopsi Palestina menemukan Assad meninggal karena serangan jantung akibat stres yang disebabkan oleh penganiayaan.

Kasus ini menarik perhatian yang tidak biasa karena kewarganegaraan gandanya, usianya, dan permintaan Departemen Luar Negeri AS untuk melakukan penyelidikan atas kematiannya.

Militer Israel mengatakan tentaranya untuk sementara menyumbat mulutnya dengan kain dan memborgol tangannya dengan zip tie karena penolakannya untuk bekerja sama.

Komandan batalion Netzah Yehuda ditegur dan dua perwira dipecat tetapi jaksa militer Israel memutuskan untuk tidak mengajukan tuntutan pidana karena mereka mengatakan tidak ada hubungan antara kesalahan yang dilakukan tentara dan kematian Assad.

Advokat Jenderal Militer mengatakan bahwa seorang pejabat medis militer merasa tidak mungkin untuk menentukan bahwa kematiannya disebabkan oleh perilaku tentara tersebut, dan bahwa tentara tersebut tidak mengetahui kondisi medisnya.

Ada beberapa insiden lain dalam beberapa tahun terakhir, beberapa di antaranya terekam dalam video, di mana tentara Netzah Yehuda dituduh atau didakwa, menganiaya tahanan Palestina.

Batalyon tersebut terutama beroperasi di Tepi Barat sebelum dipindahkan keluar dari wilayah tersebut pada akhir tahun 2022 setelah mendapat kecaman dari AS. Unit tersebut baru-baru ini bertugas di Gaza.

Sanksi yang Dijatuhkan

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken pada Jumat (19/4/2024) mengatakan telah membuat “keputusan” terkait tuduhan bahwa Israel melanggar serangkaian undang-undang AS, salh satunya yang melarang pemberian bantuan militer kepada individu atau unit pasukan keamanan yang melakukan pelanggaran berat hak asasi manusia (HAM).

Undang-Undang Leahy, yang disusun oleh Senator Patrick Leahy pada akhir tahun 1990an, melarang pemberian bantuan militer kepada individu atau unit pasukan keamanan yang melakukan pelanggaran berat hak asasi manusia dan belum diadili.

Blinken mengatakan pengumuman bisa dilakukan segera.

Tanggapan Israel

Para pemimpin Israel bereaksi dengan marah terhadap laporan sanksi tersebut.

Netanyahu pada Minggu (21/4/2024) menyebut kemungkinan sanksi terhadap unit tersebut sebagai “puncak absurditas dan kemerosotan moral” pada saat pasukan Israel berperang di Gaza melawan Hamas. Dia mengatakan bahwa pemerintahnya akan “bertindak dengan segala cara” terhadap tindakan apa pun.

Benny Gantz, seorang menteri di kabinet perang negara itu, berbicara dengan Blinken pada Minggu dan meminta agar dia “mempertimbangkan kembali keputusan yang akan diambil”.

Militer Israel mengatakan batalion Netzah Yehuda merupakan unit tempur aktif yang beroperasi sesuai prinsip hukum internasional.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


AS Ultimatum Israel, Terapkan Kebijakan Blokir Visa


(luc/luc)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *