Jakarta, CNBC Indonesia – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan alasan dibalik Indonesia banyak mengimpor Bahan Bakar Minyak (BBM) dari negara Singapura dan Malaysia.

Direktur Pembinaan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi (Migas) Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Mustika Pertiwi menjelaskan bahwa setiap negara sejatinya memiliki kualitas dan spesifikasi BBM tertentu. Seperti halnya Indonesia yang memiliki BBM jenis RON 90 atau Pertalite yang tidak sama spesifikasinya dengan BBM di negara lain.

Menurut dia, impor BBM dari negara tersebut dilakukan lantaran kedua negara itu memiliki banyak fasilitas pencampuran (blending) berbagai kualitas BBM yang diproduksi dari kilang di berbagai negara. Sehingga produk BBM yang diproduksikan sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan oleh Indonesia.

“Singapura dan Malaysia memiliki banyak fasilitas blending dan storage yang memungkinkan memblending/mencampur berbagai kualitas BBM yang diproduksi dari kilang di berbagai negara untuk memenuhi produk sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan Indonesia atau negara pembeli BBM lainnya,” kata Mustika kepada CNBC Indonesia, dikutip Selasa (23/4/2024).

Selain Indonesia, dengan fasilitas blending dan storage yang sangat besar dan lokasi strategis, Singapura dan Malaysia juga memasok kebutuhan BBM ke negara-negara lain. Misalnya seperti negara-negara di Asia Tenggara lainnya dan Australia.

Sebelumnya, Menteri ESDM Arifin Tasrif sempat menyebutkan bahwa Indonesia mengimpor banyak BBM dari negara Singapura, Malaysia, dan India.

Tak hanya BBM, Indonesia juga mengimpor minyak mentah dari berbagai negara. Mayoritas impor minyak mentah Indonesia adalah dari Arab Saudi dan juga Nigeria. Sementara Liquefied Petroleum Gas (LPG) diimpor dari Uni Emirat Arab (UEA) dan Amerika Serikat.

“Kita juga impor BBM dari tiga negara seperti Singapura, Malaysia, dan India. Ini kan harus diantisipasi sumber-sumber supply kilangnya yang ada di Kilang Singapura, Malaysia dan Kilang India. Kalau dulu kan Rusia di banned tetap aja mengambil. Jadi ini memang geopolitik ini serius,” kata Arifin di Kantor Ditjen Migas, Jumat (19/4/2024).

Adapun, produksi minyak nasional saat ini hanya mencapai sekitar 600 ribu barel per hari (bph), sementara kebutuhan mencapai 1,44 juta bph. Kekurangan 840 ribu bph akhirnya harus ditutupi melalui impor, dengan 240 ribu barel per hari berasal dari minyak mentah dan 600 ribu barel per hari dari BBM.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat impor minyak bumi Indonesia pada 2022 secara nilai terbesarnya berasal dari Singapura mencapai US$ 10,3 miliar dengan berat bersih 10,9 juta ton. Posisi ke-2 yaitu Malaysia mencapai US$ 6,2 miliar dengan berat bersih 6,7 ton. Posisi selanjutnya yaitu Arab Saudi dan disusul dengan Nigeria.

Secara jumlah keseluruhan, Indonesia mengimpor minyak bumi pada 2022 mencapai 47,74 juta ton atau US$ 40,41 miliar setara dengan Rp 656,76 triliun.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Jurus Pertamina Kurangi Ketergantungan Impor BBM


(pgr/pgr)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *