Jakarta, CNBC Indonesia – Serangan terus terjadi ke pasukan Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah. Laporan terbaru menyebut dua serangan roket dan pesawat tak berawak (drone) terjadi di Irak dan Suriah dalam waktu 24 jam terakhir.

“Pasukan AS di Irak dan Suriah menghadapi dua serangan roket dan pesawat tak berawak yang meledak secara terpisah dalam waktu kurang dari 24 jam,” kata sumber keamanan Irak dan pejabat AS dimuat Reuters, dikutip Selasa (23/4/2024).

“Merupakan insiden pertama yang dilaporkan setelah hampir tiga bulan jeda serangan,” tambahnya.

Dikatakan bagaimana dua drone menyerang pangkalan udara Ain al-Asad yang menampung pasukan AS di Provinsi Anbar, Irak barat. Beruntung pasukan menembak jatuh drone tersebut terlebih dahulu.

Lima roket yang ditembakkan dari Irak utara ke arah pasukan AS di sebuah pangkalan di Rumalyn di timur laut Suriah. Sejauh ini tidak ada laporan mengenai korban jiwa atau kerusakan signifikan akibat serangan tersebut.

“Serangan roket … yang menargetkan pasukan AS, yang tampaknya merupakan serangan pertama terhadap pasukan AS di Irak dan Suriah sejak 4 Februari,” jelas seorang pejabat pertahanan AS, yang berbicara tanpa menyebut nama, dimuat laman yang sama.

Sebelumnya, akhir pekan lalu, sebuah ledakan besar di sebuah pangkalan militer di Irak. Kejadian itu menewaskan seorang anggota pasukan keamanan Irak yang terkait dengan kelompok-kelompok yang didukung Iran.

Komandan pasukan mengatakan itu adalah sebuah serangan. Sementara tentara mengatakan mereka sedang menyelidikinya dan tidak ada pesawat tempur di langit pada saat itu.

Militer AS sebenarnya membantah terlibat. Kemungkinan besar serangan terjadi karena “pembalasan” kejadian ini.

Sebelumnya, serangan roket dan drone yang hampir terjadi setiap hari terhadap pasukan AS dimulai pada pertengahan Oktober. Sekelompok kelompok bersenjata Muslim Syiah yang didukung Iran yang dikenal sebagai Perlawanan Islam di Irak mengaku bertanggung jawab, dengan alasan dukungan AS terhadap perang Israel di Gaza.

Serangan tersebut berhenti pada akhir Januari di bawah tekanan dari pihak berwenang Irak dan Iran. Ini menyusul serangan udara balasan mematikan AS di Irak, setelah tiga tentara AS tewas dalam serangan pesawat tak berawak di sebuah pangkalan kecil di perbatasan Irak-Yordania.

Perdana Menteri (PM) Irak Mohammed Shia al-Sudani sendiri dilaporkan baru kembali dari kunjungan selama seminggu ke AS. Di sana ia bertemu dengan Presiden Joe Biden dalam upaya membuka “halaman baru” hubungan kedua negara.

Perlu diketahui AS menginvasi Irak pada tahun 2003 dan menggulingkan pemimpin kuat Saddam Hussein. Paman Sam kemudian menarik diri pada tahun 2011 sebelum kembali pada tahun 2014 sebagai pemimpin koalisi militer internasional atas permintaan pemerintah Baghdad untuk membantu memerangi pemberontak ISIS.

AS memiliki sekitar 2.500 tentara di Irak dan 900 di Suriah timur. Semua dikerahkan dalam misi pemberian nasihat dan bantuan.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Hitung Mundur Iconic Ala Thailand Sambut Tahun Baru 2024


(sef/sef)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *